Liputan Monalita di Kompasiana

Liputan Monalita di Kompasiana

Pada tanggal 21 Juli 2012 salah satu reporter kompasiana meliput kursus menjahit Monalita. Berikut ini liputannya (dapat diakses juga melalui halaman kompasiana Maria Advenita)

[tabgroup] [tab title=”Belajar Memadu Kain dan Benang di Monalita“]Jari-jari cekatan tak hentinya bekerja, memadukan benang dan kain hingga akhirnya menjadi penutup tubuh yang nyaman lagi modis. Itulah kegiatan yang setiap harinya dapat kita saksikan di Pasar Sunan Giri, Rawamangun, Jakarta. Namun ada satu tempat spesial di lantai satu pasar ini, nama tempatnya Monalita. Ibarat rumah sakit bersalin, tempat ini menjadi tempat lahirnya penjahit-penjahit yang terlatih, handal, dan jelas berkualitas. Ruangan berukuran kurang lebih 6×6m2 itu tertata dengan rapi, dengan meja-meja tempat murid kursus menjahit ini mengikuti pelajaran. Walaupun tidak terlalu luas, penataan ruangan terlihat apik, dengan tirai renda berwarna putih menghiasi dinding kacanya, dan lampu kristal manis menghiasi langit-langit. Tenang dan sejuknya pendingin ruangan begitu kontras dengan keadaan pasar siang itu. Ketika penulis datang, nampak kesibukan mereka menyelesaikan baju yang menjadi bagian dari praktik pemelajaran hari itu.[/tab][/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Tak terpikir sebelumnya“]Tak pernah terpikir sebelumnya di benak Ibu Netty, pendiri sekaligus pemilik Monalita, bahwa suatu saat ia akan membuka tempat kursus dan menjadi pengajar. “Motivasi awalnya adalah memiliki penghasilan sendiri,” itulah alasan mengapa dulu Ibu Netty belajar menjahit. Wanita asal Padang ini akhirnya membuka jasa menjahit. Tiba-tiba ada satu langganannya yang meminta diajarkan menjahit. Awalnya wanita ini menolak, tapi karena permintaannya nampaknya serius akhirnya Ibu Netty menerima langganannya itu menjadi muridnya. Pertemuan pertama berlalu, di atas meja setrikaan mereka memulai kegiatan belajar mengajar itu. Tanpa disangka di pertemuan ke dua bertambah lagi tiga orang yang ingin mengikuti kursus tersebut. Jadilah empat murid dimiliki oleh Ibu Netty. Kabar tersebar dari mulut ke mulut, Ibu Netty semakin dikenal sebagai guru jahit yang mumpuni, peminat pun semakin banyak. Akhirnya ia pun memutuskan membuka tempat kursus menjahit.[/tab] [/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Dikelola Ibu Netty dan Bapak Aldrin“]Monalita yang dikelola Ibu Netty bersama suaminya, Bapak Hj. Aldrin ini akan mencapai usianya yang ke-37 tahun Agustus nanti. Sebelumnya lokasinya ada di Jalan Sinar Jaya, tapi diputuskan untuk pindah ke Pasar Sunan Giri kira-kira 20 tahun setelah berdiri. Memang di Pasar Sunan Giri kegiatan kursus menjadi lebih mudah. Dekatnya toko-toko yang menjual kebutuhan menjahit membuat peserta kursus lebih mudah ketika membutuhkan bahan-bahan menjahit. Selain itu, lokasinya mudah dijangkau dan relatif lebih aman bagi mereka yang mengendarai mobil ke tempat kursus.[/tab] [/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Kredibilitas Monalita Tidak Diragukan“]Kredibilitas tempat kursus ini tidak diragukan lagi. Monalita menjadi satu dari sekitar 10% tempat kursus menjahit yang telah terakreditasi secara resmi oleh pemerintah. Alumninya tersebar luas, dan banyak yang sudah memiliki butik sendiri, bahkan sampai ada yang membuka butik di Kalimantan, Bali, dan Papua. Penghargaan sebagai kursus menjahit terbaik dan juara I se-DKI Jakarta juga diraih oleh tempat ini 2005 lalu. Hal itu tak lepas dari peran pengajar yang berkualitas, termasuk Ibu Netty sendiri yang merupakan sarjana di jurusan Tata Busana Universitas Negeri Jakarta, dan hingga saat ini tak terhitung banyaknya kursus yang berkaitan dengan jahit menjahit yang ia tekuni.[/tab] [/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Siswa / Pelajar di Monalita“]Pada periode ini, ada 110 murid yang terdaftar di Monalita. Tidak hanya perempuan, ada juga 1 laki-laki yang ikut dalam kursus ini. Umurnya beragam, mulai dari yang terkecil 14 tahun, hingga yang sudah berumur 60-an tahun. Mereka juga datang dari profesi dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Yang cukup menarik, di kelas yang penulis datangi terdapat satu pramugari senior yang bekerja di Garuda Indonesia, dan juga satu dosen yang mengajar di Universitas Trisakti. Macam-macam alasan mereka mengikuti kursus ini, mulai dari hobi hingga ingin mencari penghasilan.[/tab] [/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Suasana Belajar di Monalita“]Suasana belajar di Monalita di kemas serius tapi tetap terkadang terdengar beberapa candaan antar peserta kursus dan guru-guru yang mengajar di sana. Dibekali teori yang dibarengi praktik membuat peserta cepat bisa dan mengerti. “Kita menjahit dari yang benar-benar buta sampai akhirnya bisa menghasilkan baju sendiri,” kata Gina salah satu peserta kursus. Diakuinya, Ibu Netty dan guru-guru lain yang mengajar di sana sangat memperhatikan detil. “Kalau melenceng dikit ya ngulang, kita termasuk yang ngulang,” kata Gina dan temannya Martha sambil tertawa. Mereka berdua berharap ketika lulus nanti mereka bisa membuka butiknya sendiri.[/tab] [/tabgroup]

[tabgroup][tab title=”Rencana Waralaba“]Ibu Netty dan Pak Aldric berencana untuk membuka waralaba, artinya mereka tidak membuka cabang tetapi akan mencari orang yang mengelola kursusnya sendiri, hanya saja kualitasnya yang disamakan. Itulah yang terpenting bagi pasangan ini, pendidikan yang berkualitas, yang mampu membuat orang memiliki kehidupan yang lebih baik. “Orientasi kami memang pada pendidikan,” ujar Bapak Aldric. “Dengan kursus ini, paling tidak saya telah mendukung pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,” tambah Ibu Netty menegaskan hal tersebut.[/tab] [/tabgroup]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


Hit Counter provided by Acrylic Display